Contoh PKM-PENELITIAN Tentang POTRET KEHIDUPAN ANAK PUNK DI KOTA PADANGSIDIMPUAN

BAB I

PENDAHULUAN

  1.  Latar Belakang Masalah 

Punk, dalam pikiran kita ketika mendengar kata itu pasti yang terbayang adalah kenakalan dan kerusuhan. Kita semua pasti pernah melihat sekelompok anak-anak berumur 14-18 tahun yang berkeliaran di lampu merah, halte, gang senggol, dan tempat-tempat lainnya yang biasa dijadikan tempat nongkrong anak-anak yang bergaya ala Punk. Berpakaian serba hitam, rambut mowhawk.

Awalnya kelompok ini hanya terdapat pada anak-anak band yang mengikuti inspirator mereka dalam bermusik, akan tetapi gaya ala punk ini sudah memasuki gaya hidup ABG (anak baru gede) sekarang ini. Keberadaan mereka belakangan ini sangat meresahkan karena sering melakukan pemalakan, ngamen secara paksa di dalam angkot-angkot dan sering membuat keributan. Mirisnya lagi, mereka bergaya ala Punk akan tetapi tidak tahu arti Punk itu sendiri dan tidak tahu pula sejarah dan asal muasalnya. Yang mereka tahu Punk adalah anak gaul, anak band, pemberani.

Banyak yang mengartikan punk itu adalah pemuda urakan namun kreatif, sebenarnya kata punk itu muncul pertama kali di Inggris dari sebuah karya Williams Shakespeares yang berjudul , The Marriage of Lady Windsor. Sebagai subkultur, Punk berkembang sekitar tahun 80-an . Punk sebagai gerakan mengunggulkan rasa toleransi dan kebebasan. Punk, sebagai pemula, yang pertama meneriakkan ketidakadilan dan perlawanan terhadap sistem yang korup, anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker. Tetapi Punk sebenarnya tidak harus menggelandang dijalan, mabuk-mabukan nggak jelas, berambut mohawk, tatoan, berdandan urakan dan apalagi harus berbuat onar. 

Punk masuk di Indonesia pada masa kepemimpinan Presiden Suharto dan kerusuhan di akhir 1990-an yang menandai jatuhnya rezim persiden Suharto menjadi ladang subur tumbuhnya  para punkers  Indonesia dan juga di sebut-sebut sebagai ajang pembebasan bagi anak-anak muda yang tertekan di tengah kehidupan yang korup dan dipenuhi kekerasan.

Mungkin sekarang Punk sudah menyebar luas di seluruh Indonesia, berdiri di tengah bobroknya sistem Pemerintahan Indonesia. Lebih dari ribuan anak muda indonesia mengaku anak punk dan memakai style Punk dalam kehidupannya.

Tidak terkecuali punk yang muncul di Kota Padangsidimpuan. Di Sidimpuan sudah cukup banyak komunitas anak punk. Mereka hidup di tengah-tengah kota dengan kelompoknya masing-masing. Kehidupan mereka mencerminkan kesederhanaan dan kebebasan. Hidup di jalanan dan pinggiran kota bukan berarti mereka tidak memikirkan bagaimana mereka bertahan hidup. Hanya dengan modal yang sederhana mereka bisa hidup dengan apa yang tersedia. Cara mereka bertahan hidup di anggap meresahkan bagi sebagian masyarakat. Sebagian masyarakat resah dengan munculnya komunitas anak punk di Sidimpuan. Sebenarnya mereka punya pekerjaan masing-masing setiap kelompok, ada yang bekerja untuk pribadinya sendiri. Seperti jualan kaos oblong, buka studio tato, sablon baju, ada juga sebagai penjual asesoris handphone. Sebagian uang mereka disisihkan untuk mengadakan acara sesama anak punk yang diadakan setiap tahun, seperti acara band dari anak punk itu sendiri. Kegiatan ini dari mereka oleh mereka dan untuk mereka.

Anak punk yang ada di Kota Padangsidimpuan mayoritas asli orang Sidimpuan dan banyak juga yang dating dari luar Kota. Bagi anak punk pendatang mereka rata-rata yang kegiatannya sebagai pengamen di Kota.

    1. Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diambil, yaitu :

  1. Faktor yang menyebabkan munculnya komunitas anak punk di Kota Padangsidimpuan?

  2. Bagaimana pola perekrutan anak punk di Kota Padangsidimpuan?

  3. Bagaimana aktivitas anak punk di Kota Padangsidimpuan?


    1. Tujuan Penelitian 

Tujuan dilakukan penelitian ini, yaitu :

  1. Untuk mengetahui faktor yang penyebab munculnya komunitas anak punk di Kota Padangsidimpuan

  2. Untuk mengetahui pola perekrutan anak punk di Kota Padangsidimpuan

  3. Untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan kelompok anak punk di Kota Padangsidimpuan.


    1. Luaran yang diharapkan

Pada penelitian ini luaran yang diharapkan adalah :

  1. Agar anak muda yang memiliki jiwa yang sehat tidak terpengaruh menjadi anak punk dengan berbagai faktor yang ada.

  2. Menambah wawasan pengetahuan peneliti dan masyarakat mengenai keberadaan komunitas punk di Kota Padangsidimpuan.

  3. Publikasi ilmiah melalui jurnal nasional tidak terakreditasi


    1. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini, yaitu :

  1. Bagi peneliti

Untuk memprotect diri sendiri untuk tidak terjerumus kedalam hal yang negatif meskipun ada faktor yang mempengaruhi. Dan menghargai kehidupan mereka karna punk adalah salah satu kebebasan untuk berekspresi dan mereka juga memiliki Hak Asasi Manusia

  1. Bagi Masyarakat

Agar masyarakat dapat memahami pola kehidupan punk di Kota Padangsidimpuan. Dan dapat mengantisipasi kejahatan yang ditimbulkan oleh komunitas anak punk.

  1. Instansi terkait

Dapat membina dan mensejahterakan kehidupan mereka layaknya manusia normal.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Latar Belakang Anak Punk

2.1.1. Pengertian Anak

Suharso dan Ana (2005:37), menyatakan bahwa ; anak adalah turunan yang kedua; manusia yang lebih kecil; bintang yang masih kecil; pohon kecil yang tambah pada umbi atau rumpun tumbuh-tumbuhan yang besar; orang yang termasuk dalam golongan pekerjaan (keluarga, dan sebagainya); orang yang berasal dari atau di lahirkan di (suatu negeri, daerah, dan sebagainya); bagian yang kecil (pada suatu benda); yang lebih kecil dari pada yang lain.

2.1.2. Pengertian Anak Punk

Gerakan sekelompok anak muda yang mengalami masalah ekonomi dan keluarga, serta kebebasan mengeluarkan inspirasi, expresi dengan gaya punk. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan cara-cara mereka sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar dan menghentak-hentak.

Di Indonesia, dalam hal ini tidak membatasi usia anak punk. Hal ini dilakukan agar konsisten dengan hokum lokal maupun definisi Internasional yang telah disepakati. Ciri-ciri anak punk sebagai berikut:

  1. Berada ditempat umum (jalanan, pasar, pertokoan, tempat-tempat hiburan).

  2. Berpenampilan ngepunk (rambut berdiri atau Mohawk, pakai anting, rantai, sepatu boots, celana jeans ketat dan baju lusuh, jaket kulit).

  3. Berasal dari keluarga-keluarga yang tidak harmonis dan tidak mampu.

  4. Melakukan aktivitas sebagai anak punk.

Walaupun diketahui adanya ciri-ciri umum, namun bukan berarti anak-anak punk merupakan pemuda urakan, sampah bagi masyarakat. Dalam kehidupannya mereka tetap memiliki keberagaman karena adanya perbedaan latar belakang keluarga, lamanya berada di jalanan, lingkungan tempat tinggal, pilihan pekerjaan, pergaulan dan pola pengasuhan.

2.1.3. Latar Belakang Anak Punk

Punk merupakan budaya Negara barat yang sudah diterapkan dalam kehidupan oleh sebagian anak remaja Indonesia. Kebiasaan kelompok gaya pakaian, dandanan rambut, selera musik dan segala macam asesoris yang menempel atau pilihan kegiatan yang dilakukan merupakan bagian dari pernyataan identitas dan kepribadian diri. 

Faktor yang melatar belakangi anak-anak muda jaman sekarang mengikuti aliran punk antara lain lingkungan dan kondisi tempat tinggal keluarga banyak berpengaruh terhadap masalah kenakalan anak sehingga anak sering membolos sekolah. Kemudian kondisi sosial dan ekonomi orang tua juga ikut mempengaruhi, misalnya mereka yang di dalam garis kemiskinan serta kurang mampunya orang tua menjalin ikatan baik dengan anak-anaknya.

2.2. Gambaran Kehidupan Anak Punk

2.2.1. Pengertian Gambaran

Menurut Suharso dan Ana (2005:148), “Gambaran: hasil menggambar; lukisan; bayangan; uraian; keterangan; penjelasan”.

2.2.2. Gambaran Kehidupan Anak Punk

Aktivitas anak punk di daerah Kota Padangsidimpuan sehari-harinya nongkrong, ngamen untuk beli makan, wirausaha, mengikuti acara khusus punk. Faktor-faktor penyebab terjadinya anak punk biasa digolongkan menjadi dua, yaitu:

  1. Faktor Internal

  1. Sifat malas dan tidak mau bekerja.

  2. Impian kebebasan. Berbagai masalah yang dihadapi di dalam keluarga yang dapat menimbulkan pemberontakan di dalam dirinya dan berusaha mencari jalan keluar. Seorang anak merasa bosan dan tersiksa di rumah karena setiap hari menyaksikan kedua Orang tuanya bertengkar dan tidak memperhatikan mereka, pada akhirnya dia memilih menjadi anak punk karena mereka memiliki banyak kawan yang bisa menampung keluh kesahnya.


  1. Faktor Eksternal

  1. Pengaruh teman

Pengaruh teman menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mereka menjadi anak punk. Pengaruh teman menjadi dampak besar.

  1. Kekerasan dalam keluarga

Kekerasan dalam keluarga banyak diungkapkan sebagai salah satu faktor yang mendorong mereka lari dari rumah dan menjadi anak punk.

  1. Pemikiran anak punk

Pemikiran anak punk sebagian besar dari mereka menginginkan pola hidup bebas berexpresi tanpa mengikuti aturan-aturan dari pihak keluarga maupun dari Negara atau pemerintahan yang mengekang dirinya sendiri. Sehingga mereka memutuskan untuk melawan dengan menjadi atau mengikuti salah satu anggota punk.

  1. Idealisme Anak Punk

Sebenarnya mereka adalah orang orang yang keresahan untuk menemukan solusi “menghancurkan tiran”. Lalu keresahan itu mereka wujudkan dengan pemberontakan dengan berbagai wujudnya baik lewat jalur musik, propaganda, membuat produk sendiri dll. Pada dasarnya mereka anti segala sesuatu yang bersifat beku. Melainkan yang mereka inginkan adalah mampu menciptakan arus sendiri. Dengan demikian anak punk memiliki tujuan hidup dengan caranya sendiri dan target yang jelas. Dan pasti mempunyai strategi dalam mewujudkan segala kehendak anak punk tersebut.

  1. Filsafat hidup

Anak Punk selalu percaya diri dengan apa yang mereka punyai dari kekurangan ataupun kelebihan yang mereka miliki dan selalu berani mengambil segala resiko yang akan dihadapi nantinya. Seperti halnya masalah kehidupan, ada beberapa kehidupan yang begitu indah, kadang memuakan dan juga membosankan. Begitu pula dengan anak punk, “Nikmati Sajalah Hidup”. 

    1. Karakteristik Gang

Gang  delinkuen banyak tumbuh dan berkembang di kota-kota dan bertanggung jawab atas banyak kejahatan dalam bentuk pencurian, perusakan milik orang lain, dengan sengaja melanggar dan menentang otoritas orang dewasa serta moralitas yang konvensional, melakukan tindak kekerasan monteror lingkungan, dan lain-lain.pada umumnya anak-anak  remaja ini sangat agresif sifatnya, suka berbaku-hantam dengan siapapun juga tanpa sebab-sebab yang jelas, dengan tujuan sekedar untuk mengukur kekuatan kelompok sendiri, serta membuat onar dii tengah ingkungan.

Pada intinya gerombolan anak laki-laki suatu geng dengan ciri-ciri sosial dan kriminal itu adalah anak-anak normal namun oleh satu atau beberapa bentuk pengabdian, dan upaya mencari kompetensi bagi segala kekuranganya, menyebabkan anak-anak muda ini kemudian menjadi jahat.

Menurut visi anak-anak delinkuen tadi,masyarakat luas dan keluarga itu  menolak dan memusuhi dirinya; juga menghambat mereka untuk “menjadi” dan bertingkah laku, bahkan sering menghalang-halangi mereka untuk menjadi manusia yang berarti; dalam situasi penuh frustasi dan kebingungan, anak-anak secara spontan saling bersimpati dan saling tarik menarik. Mereka lalu menggerombol jadi satu mendapatkan dengan moril,gunaka memainkan seuatu peran sosial tertentu, dan untuk memuaskan segenap kebutuhanya.

Kebanyakan gang tersebut awalnya merupakan kelompok   beroperasi bersama-sama untuk mencari pengalam baru yang menggairahkan, dan melakukan eksperimen yang merangsang jiwa mereka. Dari permainan yang netral dan menyengakan hati itu,lama kelamaan perbuatan mereka mereka menjadi semakin liar dan tak terkendali, ada diluar kontrolorang dewasa. Lalu berubahlah aksi-aksinya menjadi tindak kekerasan.

Di dalam gang tersebut secara lambat-laun akan timbul benturan untuk memperebutkan peran sosial tertentu. Munculah kemudian secara spontan orang atau beberapa tokoh pemimpin, yang kemunculanya lewat banyak konflik dan adu kekuatan melawan kawan-kawan sebaya.

Gang tadi menentukan daerah operasi atau padang perburuanya sendiri. Dengan sengaja kemudian banyak di munculkan pertengkaran, perkelahian dan “peperangan” diantara gang tadi guna memperebuatkan prestise soial, banyaknya perkelaihan dan pertempuran massal itu diharapkan kita memperkuat kesadarankekaitanya dan menumbuhkan korps. Yaitu merupakan kebutuhan dan kesadaran yang menuntut setiap anggota menjadi satu onderdil yang tidak terpisahkan dari gangnya disertai loyalitas dan kebutuhan mutlak.

Norma dan kode yang di jadikan panutan dan tidak boleh dilanggar, dan serta di barengi sanksi-sanksi berat itu pada umumnya merupakan:

  1. Produk interaksi para anggota kelompok gang dan ambisi tertentu.

  2. Pencerminan pola tingkah laku para anggota gang anggota yang adadalam satu lingkungan sosial tertentu.

  3. Kelanjutan dari perkembangan sentimen kelompok primer, yang kemudian memberikan motivasi perjuangan kepada para anggota gang dalam bentuk tingkah laku menyimpang secara sosial.

Beberapa ciri gang tadi dapat disebutkan di bawah ini;

  1. Jumlah anggotanya berkisar antara 3-40 anak remaja. Jarang beranggotakan lebih dari 50 anak remaja.

  2. Anggota gang lebih banyak terdiri dari anak laki ketimbang anak perempuan, walaupun ada juga anak prempuan yang ikut di dalamya. Di dalam gang tersebut umum terjadi relasi heteroseksual. Bebas antara anak laki dan perempuan yang merasa dirinya maju dan modren. Sering pula berlanggsung perkawinan di antara mereka, sungguh pun pada umumnya anak lebih suka kawin dengan perempuan luar.

  3. Kepemimpinan ada ditangan seorang anak muda yang dianggap paling banyak beperestasi, dan memiliki lebih banyak keunggulan atau kelebihan dari pada anak-anak lainya.

  4. Kelasi diantara para anggota mulai dari keterkaitan yang longgar sampai pada hubungan intim.

  5. Sifat gang sangat dinamis dan mobil (sering berpindah-pindah tempat).

  6. Tingkah laku di dalam kaum delinkuen dalam gang itu pada umumnya berifat episodik; artinya bersipat terpotong-potong seolah-olah berdiri sendiri. Sebab tidak semua anggota berpartisipasi aktif dalam aksi-aksi bersama; ada yang pasif dan ikut ikutan saja. Yang paling aktif biasanya para anggota inti dan tokoh pemimpinya yang berusaha menjadi unsur inti dalam kelompoknya.

  7. Kebanyakan gang delinkuen terlibat dalam bermacam tingkah-laku melanggar hukum yang berlaku ditengah masyarakat.

  8. Usia gang bervariasi  dari beberapa bulan dan beberapa tahun, sampai belasan tahun atau lebih.

  9. Umur anggotanya berkisar 7-25 tahun. Pada galibnya semua anggota berusia sebaya berupa peer-group dan kawan-kawan sebaya yanh memiliki semangat dan ambisi yang kurang lebih sama.

  10. Dalam waktu yang relatif pendek, anak-anak itu berganti-ganti peran, disesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan kondisi-situasi sosial, untuk kepemimpinan baru, dan sasaran-sasaran yang ingin mereka capai.

  11. Anggota gang biasanya bersikap konvensioanl bahkan sering fanatik dalam mematuhi nilai-nilai dan norma gang sendiri. Pada umumnya mereka sangat setia dan loyal terhadap sesama.

  12. Didal gang sendiri anak-anak itu mendapatkan status sosial dan peran tertentu sebagai imbalan partisipasinya. Mereka harus mampu menjunjung tinggi nama kelompok sendiri .Semakin kasar,kejam, tenarlah, nama gangnya, dan semakin banggalah hati mereka. Nama pribadi  dan gangnya menjadi mencuat dan banyak ditiru oleh kelompok berandalan remaja lainya.

  13. Ada beberapa bentuk gang antara lain, gang perkelahian ,gang pemilikan gang kejahatan, gang penggunaan obat narkotika dan minuman beralkhol .

Penomena perlikaku menyimpang dalam kehidupan bermasyarakat memang menarik untuk dibicarakan. Sisi yang menarik bukan saja karena pemberitaan tentang perilaku manusiayang ganjil itu dapat mendongkrak oleh media massa dan rating dari suatu mata acara di stasiun televisi, tetapi juga karena tindakan-tindakan menyimpang dianggap dapat mengganggu ketertiban masyrakat. Kasus-kasus pelanggaran norma susila dan tindakan kriminal yang ditayangka noleh berbagai stasiun televisi, atau gosip-gosip gaya hidup selebritis yang terkesan jauh lebih berbeda dengan kehidupan nyata masyrakat, meskipun dicari penontonya karena dapat memenuhi hasrat ingin tahu mereka, juga sering kali di caci karena perilaku yang dianggap tidak layak.

Dalam khasanah ilmu-ilmu sosial selain sosiologi mempelajari pelaku menyimpang diantaranya adalah psikologi. Bidang ilmu tersebut mempelajari tingkah laku ataupun perilaku seseorang bagaiman ia merespon pengaruh-pengaruh sosial yang ada di sekelilingnya. Psikologi lebih menekankan pada proses-proses yang terjadi secara individual, tetapi dipengaruhi oleh variable-variabel sosial. Misalnya, dalam berintraksi perilaku individu dipengaruhi faktor-faktor sosial, seperti imitasi, sugesti, identifikasi  dan simpati. Berdsarkan pemikiran itu dapat di pahami mengapa perilaku anak-anak adalah cerminan perilaku orang dewasa yang ada di sekeliling mereka. Jika orang-orang sekitarnya memberikan contoh tidak baik kepada anak, misalnya sering mengumpat, mengeluarkan kata-kata kotor atau tidak senonoh, maka anak secara tidak sadar (karena ia belum tidak tahu arti kata-kata buruk tersebut) akan menirukan dan menggunakanya untuk berkomunikasi dengan teman-temanya.

Secara umum yang di golongkan sebagai perilaku menyimpang, antara lain adalah:

  1. Tindakan yang nonconfrom, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang ada contoh tindakan nonconfrom itu, misalnya memakai sandal butut kekampus atau ke tempat-tempat formal.

  2. Tindakan yang anti-sosial atau asosial, yaitu  tindakan yang melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum. Bentuk Tindakan sosialitu antara lain:menarik diri dari pergaulan tidak mau berteman, keinginan untuk bunuhb diri, minum-minuman keras, menggunakan narkotika atau obat-obat berbahaya, terlibat di dunia prostitusi atau pelacuran (homo seksual dan lesbianise.

  3. Tindakan-tindakan kriminal, yaitu tindakan yang nyata-nyata telah melanggar aturan-aturan hokum tertulis dan mengancam jiwa atau keselamatan orang lain. Tindakan kriminal yang sering  kita temui itu misalnya pencurian perampokan, pembunuhan, korupsi, perkosaan dan berbagai bentuk tindak kejahatan lainya, baik yang tercatat di kepolisian maupun yang tidak dilaporkan oleh masyarakat, tetapi nyata-nyata mengancam masyarakat.

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Kota Padangsidimpuan dan waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai dengan bulan April 2018.

    1. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan penelitian kualitatif, metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisi data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi.(Sugiyono, 2017;9).

    1. Tahapan Penelitian

Penelitian ini menggunakan beberapa tahapan yang dilakukan dalam kurun waktu satu tahun diantaranya:

  1. Tahap persiapan

Dalam tahapan ini adalah penyusunan proposal, pembuatan wawancara dan juga kelengkapan yang berhubungan dengan pengurusan izin penelitian pada tahapan ini dilakukan sekitar dua bulan lamanya.

    1. Tahap pelaksanaan

Pada tahapan ini peneliti terjun ke lokasi penelitian dengan melakukan pengumpulan data atau observasi (pengamatan), melakukan wawancara dan melakukan dokumentasi. Tahapan ini dilakukan sekitar lima bulan.

      1. Tahap pengumpulan dan analisis data

Setelah peneliti melakukan kegiatan dan kajian, maka tahap selanjutnya adalah penyusunan laporan penelitian. Setelah disusun, maka disederhanakan dan dijelaskan sesuai dengan permasalahan penelitian agar mudah dibaca dan diinterpretasikan. Pada tahapan ini dilakukan selama  dua bulan.

    1. Tahap penyusunan laporan

Dalam tahapan penyusunan laporan, peneliti melakukan beberapa tahapaan, mulai dari pembuatan laporan sementara, mengadakan atau mengikutsertakan dalam seminar ilmiah, melakukan penyempurnaan laporan penggandaan laporan akhir selama empat bulan.

      1. Tahap publikasi ilmiah

Setelah laporan sudah tersusun dan dianggap final maka peneliti akan melakukan publikasi ilmiah baik melalui jurnal lokal maupun jurnal internasional dan tahapan ini dilakukan satu bulan lamanya.

      1. Tahap pengiriman laporan

Dan tahapan terakhir adalah pengumpulan dan pengiriman hasil penelitian, yakni dikumpulkan di Biro Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan kemudian di kirim ke Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIRJEN DIKTI) .

    1. Teknik Pengumpulan Data

Untuk kelancaran dalam penelitian ini, maka penulis sangat memerlukan data-data yang relevan yang diperoleh melalui teknik-teknik berikut ini, yaitu:

3.4.1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Kepustakaan adalah kumpulan sumber bacaan terpilih atau dengan judul penelitian untuk memperkuat atau sebagai argumentasi pendukung terhadap pemikiran yang dinginkan penelitian. Tujuan penelitian kepustakaan ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam material yang terdapat di ruang kepustakaan, misalnya buku-buku, majalah-majalah, naskah-naskah, kiasan-kiasan sejarah dan lain-lain.

3.4.2. Penelitian Lapangan (Field Research)

Merupakan kegiatan penelitian untuk mencari data dan informan yang lengkap dan akurat yang dilakukan secara langsung ke lokasi penelitian melalui rangkaian berikut:

  1. Observasi, yaitu melalui pengamatan langsung pada objek penelitian.

  2. Wawancara, yaitu melalui tanya jawab kepada narasumber untuk memperoleh informasi yang diperlukan pada saat penelitian.

  3. Dokumentasi, yaitu melalui pengambilan data dari dokumen-dokumen, pedoman-pedoman, peraturan-peraturan, undang-undang yang mendukung penelitian.





    1. Teknik Analisis Data

Sesuai dengan metode penelitian, teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif. Analisis data telah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian.



BAB IV

BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN


  1. Anggaran Biaya

No

Jenis Pengeluaran

Biaya (Rp)

1

Peralatan penunjang

Rp. 1.600.000,-

2

Bahan habis pakai

Rp. 3.250.000,-

3

Perjalanan : Ke Pusat Kota (penelitian)

Rp. 3.900.000,-

4

Lain-lain : Paket internet, Administrasi, Dokumentasi, Komunikasi via Handphone

Rp. 2.550.000,-

Jumlah

Rp. 11.300.000,-


    1. Jadwal Kegiatan

No

Jenis Kegiatan

Bulan Ke-1

Bulan Ke-2

Bulan Ke-3

Bulan Ke-4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Diskusi dengan pembimbing

















2

Penyusunan intrumen penelitian

















3

Penentuan informan

















4

Pra Observasi

















5

Pengumpulan data (indepth interview)

















6

Pengumpulan data (participant observation)

















7

Diskusi dengan pembimbing

















8

Analisis data

















9

Penarikan kesimpulan

















10

Penyelesaian laporan penelitian



















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membantu warga korban kebakaran di Kota Padangsidimpuan

DESA WISATA SOPOTINJAK

Sahur On the Road PK IMM FISIP UMTS